Patung Hidup di Museum Fatahillah !


Ada yang menarik di daerah kawasan kota tua Jakarta Barat, jika anda berkunjung ke Museum Fatahillah anda akan menemui sesosok patung dengan gaya seperti pejuang Indonesia tempo dulu. Sosok tersebut bukan patung sesungguhnya, melainkan manusia yang mendandani dirinya seperti patung, banyak pengunjung tampak asyik berfoto dengan patung ini.

Idris, 34 tahun, dengan pemikirannya yang kreatif dan berani, bermodalkan cat dan replika peralatan perang yang dia dapat dari temannya serta pakaian yang menurutnya terlihat seperti pakaian pejuang, Idris merubah dirinya menjadi seperti patung dan melakukan atraksinya di kawasan Museum Fatahillah.

Sebelum menjadi sesosok patung di daerah kota tua ia bekerja disalah satu klinik pengobatan alternatif yang akhirnya tutup dan menuntutnya memutar otak untuk dapat bertahan hidup. “Mau lebaran malah nganggur. Gimana caranya nyari duit buat sehari hari, sementara sulit mencari pekerjaan menjelang lebaran?” tuturnya.

Awal munculnya ide menjadi manusia patung adalah ketika ia melihat bahwa museum fatahillah selalu ramai di kunjungi setiap harinya, dan ia memperhatikan bahwa orang-orang yang berkunjung ke areal museum tersebut kerap berfoto dengan posisi yang sama, seperti di dekat meriam di depan gedung museum fatahillah yang kemudian menginspirasinya. “Orang foto-foto di meriam dengan gaya lucu-lucu gitu, alay-alay gitu. Akhirnya saya berfikir kalau misalnya ada patung nya lebih unik lagi maksudnya patung yang gayanya bisa berubah-ubah” ujarnya.

Dari situlah muncul ide untuk mulai melumuri tubuhnya dengan cat tembok seadanya. Dengan rasa grogi dan sedikit malu ia memberanikan diri untuk pertama kalinya tampil menjadi patung di kota tua, ternyata para pengunjung kota tua memberikan respon baik. Mulai banyak yang mengajak nya berfoto bersama atau sekedar menjadikannya sebagai objek foto.

Idris tak pernah memasang tarif untuk berfoto bersama, namun pengunjung senantiasa memberi tip seikhlasnya. Pendapatannya kini jauh lebih besar dari pekerjaannya terdahulu, itulah yang membuatnya enggan beralih dari profesinya kini.

“Saya pun, ya ada keinginan mengajak teman-teman lain yang mau berdandan seperti ini dengan kostum yang berbeda-beda, figurnya seperti pejuang tempo dulu, tapi tetap seperti patung. Sambil berkesenian sambil mengenang jasa pahlawan”.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Belajar Bahasa Inggris

Arsip Artikel