Sebuah penelitian yang dilakukan oleh pemerintah kota metropolitan Tokyo, dengan menyertakan akademisi, memperkirakan jumlah penduduk Tokyo Raya pada tahun 2100 sekitar 7,13 juta orang.
Pada sensus terakhir yang dilakukan pada 2010, penghuni Tokyo Raya sebanyak 13,16 juta orang.
Jumlah ini akan mencapai puncak pada tahun 2020, dengan 13,35 juta penduduk. Setelah itu jumlahnya akan terus turun.
Jepang mengalami krisis populasi, sebagaimana telah diingatkan para pakar.
Negara ini akan mempunyai jumlah lanjut usia paling banyak di dunia. Ini adalah salah satu bukti kemajuan teknologi kesehatan, sehingga orang Jepang rata-rata berusia panjang.
Di lain pihak, pasangan muda dan produktif makin sedikit memiliki anak.
Pada tahun 2011 sebanyak 1.057.000 bayi lahir, berkurang 14 ribu dari jumlah kelahiran tahun sebelumnya.
Institut Populasi Nasional dan Riset Keamanan Sosial mengingatkan bahwa penduduk Jepang pada tahun 2100 akan berjumlah 49,59 juta orang, atau turun 61 persen dari angka tahun 2010.
Merosotnya jumlah kelahiran memberi implikasi ekonomi, akibat ketidakseimbangan usia populasi.
Pada waktu yang tidak lama lagi itu, akan ada sedikit angkatan kerja yang harus membiayai dana kesehatan bagi kaum lanjut usia.
"Jumlah orang produktif terus menurun, sementara pemerintah lokal menghadapi masalah keuangan," demikian pernyataan resmi para pakar yang melakukan kajian, untuk pemerintah metropolitan Tokyo.
Panel itu mengatakan dari 7,13 juta penduduk Tokyo pada tahun 2100, termasuk diantaranya 3,27 juta orang yang berusia diatas 65 tahun.
"Populasi pekerja, terkonsentrasi di Tokyo, dengan cepat menjadi angkatan lanjut usia," kata Akihiko Matsutani, profesor dari Institut Studi Kebijakan Nasional, kepada Kyodo.
"Jika ekonomi negara berkembang terus tumbuh, daya saing internasional perusahan besar di Tokyo, akan tenggelam," tambahnya.

