Karyawan adalah aset perusahaan. Saya sering mendengar pernyataan ini. Awal saya memulai usaha, saya mengaminkannya. Namun apa yang saya alami belakangan ini, membuat saya berpikir ulang, benarkah pernyataan itu?
Saya menekuni dunia wirausaha sudah cukup lama, kira-kira 12 tahun yang lalu. Meski masih berbentuk usaha mikro atau usaha berskala kecil, namun profit yang saya dapat sejauh ini Alhamdulillah stabil. Meski tak saya pungkiri, aneka musibah dan cobaan Tuhan datang silih berganti. Salah satunya adalah apa yang terjadi beberapa minggu lalu.
Cerita berawal saat karyawan saya yang baru bekerja 4 bulan, sebut saja si A, tiba-tiba kabur melarikan diri membawa sejumlah uang, kendaraan operasional kantor, dan sejumlah dokumen penting. 3 bulan pertama, kerjanya sangat profesional. Beres. Tak ada masalah berarti. Masalah mulai timbul sebulan terakhir ini, dimana kinerjanya semakin menurun. Beberapa kali ketahuan berbohong. Sebelum semua terdeteksi dengan detail, ternyata ia keburu melarikan diri. Keruan saya bingung. Kemana hendak saya cari. HPnya dimatikan. Membuat saya kehilangan jejak kemana gerangan dia pergi.
Ulahnya membuat saya benar-benar kelimpungan. Kerjanya yang tak beres, juga membuat pelanggan kami kecewa. Seketika ia menghancurkan dan merusak kepercayaan pelanggan kepada perusahaan kecil saya yang sudah saya bina bertahun-tahun.
Selidik punya selidik, ternyata ia terjerat judi akibat diajak seorang teman yang baru dikenalnya hampir sebulan belakangan ini. Setelah seminggu pelariannya, ia sempat menghubungi saya dengan berbohong mengarang cerita bahwa ia terlibat aliran pengajian sesat. Ia mengaku dibawa sekelompok orang dan dibuang di satu tempat, hingga membuatnya linglung. Awalnya saya begitu percaya akan ceritanya. Namun belakangan setalah berhadapan langsung dengannya dan saya menginterogasinya terungkaplah kebohongan demi kebohongannya. Yang berujung pengakuan ia terlibat judi. Dan ia mengaku semua uang kantor yang dibawanya habis di meja judi, kendaraan perusahaan pun ia gadaikan pada seorang temannya. Masih beruntung berkas penting saya bisa kembali.
Saya memang tak memberlakukan proteksi dengan menyandera identitas berharga tentang karyawan saya selain KTP. Tak pernah berpikir meminta jaminan ijasah dan surat berharga lainnya. Memang, karena masih usaha skala kecil, manajemen kantor saya masih menggunakan asas kekeluargaan dalam pengelolaannya. Bermodal referensi orang terdekat dan kepercayaan semata. Mungkin ini bisa disebut sebagai bentuk ketidakprofesionalan. Tapi memang begitulah yang terjadi selama 12 tahun ini. Saya benar-benar bermodal kepercayaan mengatur semua urusan yang berhubungan dengan karyawan.
Lain lagi si A lain pula si B. Karyawan saya yang lain lagi. Seperti pernah saya ceritakan disini, Si B ini adalah karyawan saya yang paling loyal dan terpercaya diantara semua karyawan yang ada. Kejujurannya sudah teruji. Ia bahkan ikut saya sejak 10 tahun yang lalu. Kehadirannya secara tak langsung membawa kemajuan yang pesat bagi perkembangan bisnis saya. Meski pendidikannya tak cukup tinggi, dia karyawan saya yang mau belajar mengembangkan diri. Pelayanannya yang ramah dan cekatan kepada pelanggan kami, secara tak langsung membuat omset usaha meningkat tajam. Ia selalu dicari pelanggan saat tak hadir dikantor. Memang bagian kerjanya adalah menjadi garda depan melayani pelanggan kami.
Dari dua ilustrasi kasus ini, saya jadi membuat sebuah kesimpulan atas pertanyaan dari judul yang saya buat di atas. Karyawan itu ternyata tak selalu menjadi aset bagi perusahaan. Jadi opini karyawan adalah aset perusahaan, menurut saya tidak selalu benar. Karenanya dari pertanyaan judul di atas, masih perlu digali pertanyaan berikutnya. Karyawan yang bagaimana dulu? Kalau ia seorang karyawan berdedikasi membantu setulus hati memajukan sebuah perusaahaan, dengan kerja penuh loyalitas, hingga kepercayaan pelanggan dan omset perusahaan meningkat, tentu karyawan seperti ini baru bisa disebut aset perusahaan. Yang kerjanya sangat perlu diapresiasi dengan reward yang sesuai dengan dedikasinya. Pada karyawan seperti ini, saya tak perlu hitung-hitungan. Karena saat omset perusahaan naik dan berkembang, ialah salah satu orang yang berjasa mewujudkannya, hingga ia berhak ikut menikmati bonus atas kerja kerasnya.
Dan pada karyawan saya model si A, tentu karena prilakunya yang seperti ini, ia jelas tak bisa dikategorikan sebagai aset perusahaan. Kehadirannya malah menjadi benalu yang bisa membuat kolaps perusahaan. Layaknya memelihara anak macan. Satu saat kita selalu siap diterkamnya dari belakang.
Sebagai mahluk Tuhan yang dicipta dengan aneka sifat, aset yang satu ini memang perlu perhatian dan pendekatan tersendiri mengelolanya. Selama ini apa yang bisa saya lakukan adalah membuat karyawan saya nyaman bekerja. Tidak cukup sekedar memberi gaji yang layak, namun juga memberi perhatian atas setiap kesulitan hidup mereka. Sebisanya saya mengenal mereka secara personal dan membuat mereka bisa merasa ikut memiliki usaha ini.
Bila ada profit yang besar, saya tak segan berbagi kebahagiaan pada mereka. Seperti secara berkala mengajak mereka outing ke tempat-tempat peristirahatan bertaraf baik yang mungkin belum pernah mereka datangi. Di momen itu saya bisa lebih dekat dengan mereka. Bisa saling berbagi cerita dan mengevaluasi apa yang terjadi di perusahaan kecil saya. Karena saya percaya apa yang saya dapat semua juga adalah karena usaha dan kerja keras mereka.
Saya memang seorang wirausahawan otodidak. Tak pernah mempelajari secara detail tentang apa yang saya tulis di sini. Tak ada teori manajemen yang bisa saya paparkan. Hanya prinsip learning by doing yang saya pegang. Tergolong nekad memang. Tapi setidaknya dari setiap musibah dan cobaan yang menimpa laju usaha saya ini, saya bisa belajar banyak hal. Memang untuk usaha skala kecil seperti yang saya jalani ini, pelajaran berharga sering baru didapat ditengah jalan. Saat aneka kasus saya hadapi. Hingga setiap peristiwa membawa hikmah, menjadi sarana menggali ilmu.
Pelajaran berharganya, jangan gentar memulai usaha, meski anda bukan seorang profesional dalam dunia enterpreuneur. Anda bisa tetap belajar, meski itu dari sebuah kegagalan sekalipun. Bak kata pepatah, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
Keep Learning….
Sumber :

